Yayasan Pustaka Loka Manuskripedia kembali menegaskan perannya dalam merawat dan menghidupkan warisan keilmuan Islam Nusantara dengan menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk “Sastra, Sufisme, dan Islam Sasak: Menyelami Spiritualitas dalam Balutan Budaya” pada Rabu malam, 18 Juni 2025.
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini diikuti oleh sekitar 70 peserta dari berbagai kalangan: mahasiswa, akademisi, peneliti, hingga budayawan Gumi Sasak. Webinar berlangsung hangat dan interaktif, menandakan tingginya antusiasme terhadap kekayaan spiritual dan budaya Islam Sasak yang terwariskan melalui naskah-naskah kuno.

Dalam sambutannya, Wahyu Muryadi, S.E., M.M., selaku Founder Manuskripedia, menekankan pentingnya merajut kembali jaringan sanad dakwah dan keilmuan Islam Nusantara. Ia menyebut Lombok sebagai simpul penting dalam sejarah Islam lokal, salah satunya melalui jalur dakwah Sunan Giri yang meninggalkan jejak di tanah Sasak. “Sebagian besar koleksi naskah di Manuskripedia berasal dari Lombok, termasuk Carita Nabi Aparas, Babad Selaparang, Indrajaya, hingga berbagai teks Panji,” jelas Wahyu.
Webinar menghadirkan Lamuh Syamsuar, budayawan Gumi Sasak, sebagai narasumber utama. Ia mengangkat tradisi bepaosan—pembacaan naskah kuno (takepan) dalam berbagai upacara adat dan keagamaan masyarakat Sasak. “Takepan bukan sekadar teks kuno, tetapi merupakan pintu menuju spiritualitas dan sejarah lokal yang hidup,” tegasnya.
Lebih jauh, Lamuh menjelaskan bahwa tradisi takepan telah membentuk lanskap intelektual dan spiritual masyarakat Sasak sejak berabad-abad lalu. Bahkan, banyak nilai sufistik dalam teks-teks tersebut menjadi pedoman etika kehidupan bermasyarakat dan beragama. Ia juga menekankan pentingnya dokumentasi dan pelestarian terhadap praktik bepaosan agar generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri.
Berbagai naskah seperti Serat Menak, Tapel Adam, Bayanul Haq, dan Hikayat Nur dibacakan dalam konteks upacara seperti pernikahan, maulid, hingga peringatan Isra’ Mi’raj. Teks-teks ini ditulis dalam bentuk Macapat maupun syair Arab Pegon, dan mengandung nilai sufisme, wiracarita, serta babad sejarah.

Selain sebagai bentuk pelestarian budaya, webinar ini juga membuka ruang refleksi terhadap relevansi naskah kuno dalam membentuk karakter dan spiritualitas di era modern. Diskusi berkembang ke arah bagaimana warisan literasi lokal dapat diintegrasikan ke dalam pendidikan formal maupun kegiatan sosial berbasis komunitas. Hal ini menunjukkan bahwa naskah bukan sekadar artefak sejarah, tetapi sumber daya kultural yang hidup dan dinamis.
Meski demikian, pelestarian takepan masih menghadapi tantangan besar: mitos naskah adiluhung yang membuat masyarakat enggan menyentuhnya, terbatasnya akses manuskrip, serta belum adanya klasifikasi ilmiah terhadap jenis naskah-naskah tersebut.
Webinar ini menjadi bagian dari ikhtiar Manuskripedia untuk menguatkan kembali khazanah keislaman lokal sebagai bagian integral dari sejarah dan identitas keindonesiaan. Dengan memperluas ruang-ruang diskusi berbasis naskah dan tradisi, Manuskripedia berkomitmen untuk terus menyalakan api literasi dan spiritualitas yang berpijak pada akar budaya bangsa.