Prof. Jajang Ungkap Tradisi Literasi Islam Ulama Sunda dalam Webinar Manuskripedia

Webinar Manuskripedia Hadirkan Pemikiran Mendalam tentang Tradisi Tulis dan Jaringan Keilmuan Ulama Sunda-Manuskripedia kembali menyelenggarakan webinar inspiratif bertajuk “Merekam Jejak dan Peran Ulama Sunda dalam Tradisi Literasi Islam” pada Selasa malam, 22 Juli 2025. Diselenggarakan secara daring melalui YouTube Live, kegiatan ini menyita perhatian para pegiat naskah, santri, akademisi, dan peneliti dari berbagai daerah yang ingin mendalami khazanah literasi Islam Nusantara, khususnya dari perspektif keulamaan Sunda.

Acara dibuka oleh Wahyu Muryadi, pendiri Manuskripedia, yang menekankan pentingnya menggali kembali peran para ulama lokal dalam membangun peradaban Islam Indonesia. Ia menyampaikan bahwa webinar ini bertujuan menguatkan kesadaran generasi muda tentang pentingnya dokumentasi, digitalisasi, dan studi lanjutan atas karya-karya keilmuan masa lampau.

Hadir sebagai narasumber utama, Prof. Jajang A. Rohmana, M.Ag., Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung, menyampaikan paparan mendalam mengenai kontribusi ulama Sunda dalam membangun tradisi literasi Islam yang kuat, luas, dan berakar. Ia menunjukkan bahwa para ulama Sunda tidak hanya mengajar di pesantren, tetapi juga aktif menulis dan menerbitkan berbagai karya dalam bahasa Arab dan Arab-Pegon yang kini menjadi bukti nyata keberadaan jaringan keilmuan lintas kawasan—dari Priangan hingga ke Timur Tengah.

Menurut Prof. Jajang, sejak abad ke-17 hingga awal abad ke-20, ulama-ulama seperti Syekh Nawawi Banten, Syekh Mukhtar ‘Atarid Bogor, dan KH Hasan Mustapa telah menjadi rujukan dalam wacana keislaman klasik dan modern. Banyak dari karya mereka bahkan diterbitkan di Mekkah dan Mesir, menandakan bahwa pemikiran keislaman Sunda memiliki tempat penting dalam dunia Islam internasional. Ia juga menekankan bahwa para ulama ini tidak hanya mewariskan ilmu melalui teks formal, tapi juga melalui karya-karya sastra keagamaan yang puitis dan penuh pesan spiritual.

Dalam sesi ini, Prof. Jajang juga membacakan beberapa kutipan dari naskah-naskah tasawuf berbahasa Sunda yang sarat makna sufistik. Ia menegaskan bahwa warisan seperti ini menunjukkan kedalaman spiritual dan kekayaan kultural Islam lokal yang perlu terus dikaji dan dilestarikan. “Puisi-puisi dalam naskah tersebut bukan hanya indah secara bahasa, tapi juga mengandung filosofi hidup dan pemahaman keagamaan yang mendalam,” ujar Prof. Jajang.

Selain aspek tekstual, ia juga mengangkat pentingnya jaringan pesantren, penerbit, dan toko kitab yang telah menopang keberlanjutan literasi Islam di tanah Sunda. Ia mengajak para peneliti muda untuk turut berperan aktif dalam menyunting, menerbitkan ulang, dan membumikan kembali karya-karya ulama Nusantara di tengah dunia digital saat ini.

Sesi diskusi berlangsung dinamis, dengan berbagai pertanyaan yang muncul seputar strategi konservasi manuskrip, digitalisasi koleksi pesantren, serta bagaimana literasi lokal bisa masuk dalam kurikulum pendidikan Islam. Webinar ini bukan hanya memberi ruang belajar, tetapi juga menjadi medium silaturahmi intelektual antar pegiat literasi Islam.

Rekaman kegiatan ini tersedia di kanal YouTube Manuskripedia dan dapat diakses publik melalui tautan: https://www.youtube.com/live/CJf6MD6XniM?si=79ZM-mEEEfw94TXp

Dengan hadirnya Prof. Jajang A. Rohmana sebagai narasumber, webinar ini memberikan perspektif akademik sekaligus historis yang kuat tentang pentingnya menjaga dan menghidupkan kembali khazanah literasi Islam dari para ulama Sunda. Warisan tersebut, menurutnya, adalah kekayaan intelektual yang tak ternilai dan harus terus diwariskan lintas generasi. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *