Menggali Tradisi Puasa di Nusantara, Manuskripedia dan Laduni Gelar Webinar

14 Maret 2025 – Sebuah webinar bertajuk “Ritual Upawasa dalam Tradisi Nusantara” sukses digelar oleh Manuskripedia dan Laduni.ID pada Jumat sore. Acara yang berlangsung secara daring dari pukul 16.00 hingga 18.00 WIB ini diikuti oleh lebih dari 50 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, praktisi budaya, hingga masyarakat umum yang tertarik dengan khazanah puasa dalam tradisi Nusantara.

Webinar ini diawali dengan sambutan dari Wahyu Muryadi, Founder Manuskripedia, dan Hari Usmayadi, M.Kom., M.M., Founder Laduni.ID. Dalam sambutannya, mereka menekankan pentingnya menggali kembali nilai-nilai spiritual dan budaya yang terkandung dalam tradisi upawasa atau puasa yang telah lama berkembang di Nusantara.

Sebagai narasumber utama, M. Yaser Arafat, M.A., seorang praktisi dan peneliti kebudayaan, memaparkan sejarah dan bentuk-bentuk puasa dalam berbagai tradisi di Jawa. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bagaimana ritual puasa tidak hanya menjadi bagian dari ajaran Islam tetapi juga telah lama dipraktikkan dalam berbagai budaya dengan tujuan spiritual yang mendalam.

Salah satu aspek menarik yang diangkat adalah puasa sebagai mahar kesaktian dalam tradisi Jawa. Dalam budaya Jawa, seseorang yang ingin memperoleh kesaktian atau kemampuan spiritual tertentu sering kali diwajibkan menjalani puasa tertentu sebagai bagian dari laku tirakat. Berbagai bentuk puasa seperti mutih, pati geni, nglowong, dan ngebleng dipercaya dapat meningkatkan kekuatan batin dan memperkuat hubungan seseorang dengan alam serta dimensi spiritual lainnya.

Selain itu, M. Yaser Arafat juga membahas konsep “Nyaosi Dahar Gusti Kang Kuwasa”, yang berarti bahwa puasa adalah bentuk penghambaan kepada Tuhan. Dalam beberapa naskah Jawa kuno, puasa disebut sebagai persembahan eksklusif kepada Tuhan, di mana seseorang menahan diri dari makan dan minum bukan hanya sebagai ibadah, tetapi juga sebagai bentuk penyerahan total kepada kehendak Ilahi. Dalam konteks ini, puasa dipandang sebagai cara untuk memadamkan “api” nafsu, menyalakan “cahaya” kebijaksanaan, dan akhirnya mencapai nirvana spiritual atau ketenangan batin yang hakiki.

Narasumber kedua, Abd. Hakim Abidin, M.A., yang merupakan Redaktur Senior Laduni.ID, menjelaskan bagaimana tradisi puasa dalam Islam memiliki kaitan erat dengan konsep penyucian diri serta bagaimana tradisi Rejeban dan Ruwahan di Jawa menjadi bagian dari persiapan spiritual sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Rejeban, yang berkaitan dengan peringatan turunnya perintah salat, serta Ruwahan, yang melibatkan ziarah kubur dan slametan, merupakan bentuk penghormatan terhadap leluhur dan persiapan batin dalam menyambut bulan suci.

Para peserta webinar memberikan respons yang antusias, dengan berbagai pertanyaan dan diskusi yang berkembang mengenai bagaimana kearifan lokal ini masih relevan dengan praktik keagamaan di era modern. Beberapa peserta juga mengungkapkan ketertarikannya untuk meneliti lebih lanjut mengenai hubungan antara tradisi puasa Nusantara dan praktik spiritual global.

Acara ini diakhiri dengan kesimpulan bahwa puasa tidak hanya sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, tetapi juga memiliki dimensi sosial, budaya, dan spiritual yang mendalam. Dengan memahami tradisi-tradisi yang berkembang di Nusantara, masyarakat diharapkan dapat semakin menghayati nilai-nilai puasa dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai tindak lanjut dari webinar ini, Laduni.ID dan Manuskripedia berencana mengadakan diskusi lanjutan yang lebih mendalam terkait tradisi spiritual dan manuskrip Nusantara guna memperkaya wawasan masyarakat terhadap warisan budaya yang berharga ini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *